Di mana dinding itu terbuka.
Kisah tentang sebuah kata, celah di dinding, dan taman sunyi di baliknya.
Mengapa “Sela”
Sela berarti celah: ruang di antara dua batu, bukaan di dinding yang hampir Anda lewati begitu saja.
Setiap kota memilikinya. Bukaan kecil yang Anda lewati ratusan kali sebelum menyadarinya. Kami ingin membangunnya dengan sengaja: sebuah pintu sempit di tengah riuh Makassar yang membuka ke sesuatu yang hijau dan tak tergesa.
Melangkahlah masuk, dan jalanan pun menjauh. Yang tersisa hanya lumut, cahaya, dan teh yang dibuat perlahan. Itulah seluruh gagasannya.


Cara kami memandang teh
Kami memilih dengan cermat dan menyiapkan dengan perlahan. Matcha kami digiling dengan batu dan dikocok saat dipesan; teh kami berasal dari petani yang kami kenal namanya.
Kami sengaja menjaga menu tetap kecil: daftar ringkas, dipilih dengan cermat, dan berganti mengikuti musim. Kami lebih memilih membuat dua belas hal dengan baik daripada empat puluh hal seadanya.
Ruangnya
Batu, lumut, tanaman, dan cahaya lembut. Ruang ini dibangun di sekitar celah: dinding yang Anda susupi, lalu taman yang memeluk Anda.
Tempat di mana sore berlalu dengan tenang. Datanglah dengan buku, seorang teman, atau tidak sama sekali.

Catatan dari kami
Sela bermula dari perjalanan pulang melewati retakan di dinding yang ditumbuhi lumut. Kami terus memikirkan sepetak hijau kecil itu, tersembunyi di tempat yang terlihat.
Kafe ini adalah upaya kami membangunnya dengan sungguh-sungguh: tempat Makassar bisa melambat bersama secangkir sesuatu yang dibuat dengan cermat.
Kami tak sabar membuatkannya untuk Anda.
— Tim Sela
Temukan celahnya. Singgahlah sejenak.
Kami buka dalam beberapa bulan. Datang dan lihat apa yang ada di balik dinding.